Rabu, 06 April 2011

1. Allah

Lafal Allah berasal dari kata ilah yang merupakan kata jenis yang pada awalnya diberikan untuk semua
sembahan, baik yang benar maupun yang batil, tetapi kemudian hanya diperuntukkan bagi sesembahan yang benar (haqq) saja. Allah merupakan kata jadian yang berasal dari kata ilahah, atau uluhah, atau uluhiyyah, yang semuanya berarti “ibadah”, hanya di sini kata itu diartikan sebagai ma’bud (yang disembah).
Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa lafal Jalalah ini berasal dari kata alaha yang berarti tahayyana (bingung), sebab Allah SWT membuat akal dan pemahaman menjadi bingung jika memikirkan keadaan-Nya.
Pendapat lain mengatakan bahwa kata Allah itu berasal dari kata aliha yang artinya “senang” atau “menaruh kepercayaan kepada-Nya,” sebab hati menjadi tenteram dengan mengingat-Nya, dan jiwa menjadi tenang dengan mengenal-Nya. Dan masih banyak lagi pendapat lainnya.
Allah adalah nama yang diberikan kepada Dzat yang maujud dan haqq, yang mengumpulkan segala sifat ketuhanan, yang disifati dengan segala sifat rububiyah, yang munfarid dengan wujud hakiki, sebab semua yang wujud selain Dia tidak berhak untuk menjadi ada dengan sendirinya, melainkan keberadaannya bergantung kepada-Nya.
Allah adalah nama yang mengumpulkan makna semua nama dan hakikat-Nya, dan merupakan Dzat yang disembah secara haqq. Dia tidak membutuhkan siapa pun, sebaliknya yang lainlah yang membutuhkan-Nya.
Faedahnya
Ketahuilah, bahwasanya ism (Allah) ini adalah seagung-agungnya asma yang jumlahnya sembilan puluh sembilan, seperti yang diberitakan oleh at-Turmudzi, sebab menunjukkan kepada Dzat yang mengumpulkan sifat-sifat uluhiyah seluruhnya, hingga tidak ada sesuatu pun yang menyamainya. Sedangkan asma lainnya tidak menunjukkan ketunggalannya kecuali ketunggalan arti yang berhubungan dengan ilmu, kekuasaan, atau perbuatan. Ia pun termasuk asma khusus yang tidak diberikan kepada selain Dzat Yang Mahasuci dan Mahaagung, baik secara hakiki maupun kiasan. Sebaliknya, asma yang lain terkadang diberikan juga kepada yang lain-Nya, seperti Qadir, Alim dan Rahim.
Diantara keistimewaan lafal Allah itu adalah asma lainnya selalu disandarkan kepada-Nya, misalnya Allah ar Rahman ar Rahim, atau Allah as Sami’al-Bashir, dan lain-lain. Sedang Dia tidak disandarkan kepada yang lainnya; tidak dikatakan, misalnya, Al Qadir Allah atau Ar Rasyid Allah.
Seyogianya, dalam beribadat dengan ism ini, seorang hamba harus mencurahkan segenap pikiran dan kemauannya semata-mata kepada Allah Swt, tidak melihat kepada yang lain dan tidak menoleh kepada selain-Nya, serta tidak mengharap dan tidak takut kecuali kepadaaNya.
Rasulullah saw, bersabda: “Bait syair yang paling benar dalam sastra Arab adalah ucapan labid:
Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.”
Khasiatnya
Barangsiapa membaca ism ini secara rutin setiap hari sebanyak seribu kali, dengan ucapan Ya Allah ya hu, niscaya Allah akan mengaruniakan kepada orang itu kesempurrnaan keyakinan. Barangsiapa membacanya pada hari Jumat sebelum shalat, dalam keadaan yang suci dan bersih pakaiannya, serta bebas dari segala kesibukan, maka Allah akan memudahkan segala permintaannya. Jika orang yang sedang menderita suatu penyakit yang sulit disembuhkan oleh dokter, lalu ia berdoa kepada Allah dengan ism ini, niscaya ia akan sembuh dengan izin Allah, selama ajalnya belum tiba.

Tidak ada komentar: